12 September, 2007

Pos Pikiran

“Pos-Pikiran”

Oleh:

Andreo F. Rajagukguk

Aku adalah barang yang berbentuk kotak persegi panjang dan dibungkus rapi dengan kertas sampul coklat. Panjang aku 43 cm dan tinggi 30 cm. Di sampul tersebut bertuliskan “jangan dibanting.” Aku dibawa oleh pria dewasa berumur 32 tahun dengan wajah yang berewokan, dan di atas kepalanya dibalut surban putih, namanya Rahman. Dia jugalah yang kemudian menciptakan aku, sehingga aku ada walaupun sampai sekarang aku tidak tahu maksud dia menciptakan aku. Yang aku tahu sekarang hanyalah siapa aku, tapi tidak tahu apa maksudnya.

Dengan memakai motor tua, Rahman membawaku ketempat yang bukan aku sangka. Aku berusaha memikirkan ke mana aku akan dibawa, tetapi di jalan konsentrasiku selalu terganggu. Berkali-kali terdengar suara knalpot motor tua yang diselingi dengan suara seperti tembakan.

“Rasa kaget mendebar jantung seperti orang yang berada ditengah-tengah perbatasan konflik,” candaku. Tidak itu saja, asap knalpot motor tua yang dipakainya membuat langit yang tampak cerah menjadi seperti mendung. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana jika wajah kita terkena asap motor 2 tak yang tidak terawat. Mata dan hidung terasa seperti ditusuk jarum pentul.

Sambil memasang wajah geram dicampur dengan rasa kasihan yang mendalam, sesekali aku melihat ke arah Rahman. Pikiranku pun tersentak terhenti dengan meninggalkan sisa suatu takdir kemana aku akan dibawa.

Di dalam perjalanan, kami melewati cuaca yang panas dan jalan yang macet. Butuh orang-orang yang tangguh untuk melewati rintangan ini. Dengan kecepatan 40 Km/Jam, kami seperti siput di tengah kawanan kuda liar yang hanya menerima debu-debu hasil dari percikan kaki dengan tanah. Sangat terasa sekali akhirnya kami pun berhenti. Wajahku menjadi heran, karena aku tidak tahu tempat apa ini. Kepalaku menadah ke atas dan melihat sekelilingku; dan yang terlihat hanyalah gedung-gedung tinggi menjulang. Aku tidak tahu apa maksud Rahman membawaku ke sini. Tak ku sangka, kami berhenti karena motor kami mogok. Wajahku semakin muram melihat penderitaan ini. Dengan keringat bercucuran, Rahman terus berusaha memperbaiki mesin motornya. 15 menit waktu sudah dia pakai untuk memperbaiki motornya, walaupun belum berhasil juga. Sedikit terlintas dipikiranku bahwa mungkin hanya kekuatan doalah yang dapat memperbaiki mesin ini.

“Hei... Bung berdoalah! Pikiranmu sudah tidak sanggup lagi untuk memprediksi mekanisme mesin ini,” teriakku.

Ketika dia mencoba membersihkan businya dan menstarter motornya berulangkali, barulah motornya hidup kembali. Aku lega, dan kami kembali melanjutkan perjalanan.

Perjalanan panjang dengan wajah kesal dan tanpa kepastian dibenakku terus aku lalui. Setelah memakan waktu 70 Menit, akhirnya tibalah kami di suatu tempat yang aku pun tidak tahu tempat apa itu.

“Semoga saja bukan mogok lagi...,” harapanku dengan penuh kekesalan, walaupun kekesalan ini hanyalah peralihan di dalam pikiran.

Betapa tidak, umurku sudah tinggal 8 menit lagi. Bulu kuduku terus merinding di detik-detik akhir masa hidupku. Tetapi rasa penasaranku masih terus mendahului kepasrahan dengan ingin segera mencari tahu tempat apa ini. Aku berusaha melirik kanan kiri untuk melihat petunjuk tempat apa itu, namun tidak terlihat. Pohon besar menutupi tulisan tempat ini. Penasaranku pun hilang sejenak ditelan kepasrahan.

Perasaanku akan takdir semakin pasti setelah dia memarkir motornya ditempat parkir. Sebelum dia meninggalkan motornya, dia memegangku dan kemudian berkali-kali menciumku sambil berkata dengan terharu: “…Aku mengharapkanmu…”

Perkataan itu membuat aku berpikir ulang mengenai diriku. Di dalam hati aku bertanya: “Ada apa dengan ku? Kenapa pria tersebut sampai mengandalkan diriku? Apakah dia tidak bisa hidup tanpa diriku?”

Aku terus melihat gerak-geriknya sambil terus berusaha mencari tahu tempat apa itu. Namun tiba-tiba semua pandanganku menjadi gelap. Pandanganku tertutup oleh jaketnya. Mungkin bagi dia aku ini sangat penting dan rahasia, sehingga aku di masukkan ke dalam jaketnya. Namun di sisi lain aku lagi-lagi gagal mencari tahu tampat apa itu.

Setelah beberapa menit di dalam kegelapan, akhirnya aku melihat terang. Aku dikeluarkan dari jaketnya dan tiba-tiba di hadapanku berdiri seorang gadis cantik dengan rambut panjang. Gadis cantik ini sedang berbicara dengan Rahman. Selentingan suara terdengar olehku, dan berharap aku mendapatkan titik terang dari percakapan ini.

“Mbak, kalo mau kirim paket ini ke Jember berapa ya?”

“Tunggu sebentar, ya?” kata gadis cantik itu kepada Rahman sembari mangangkatku dan menimbangku. Hasilnya beratku pun kurang dari 1 Kg.

Setelah mengetahui beratku, ia kemudian mengambil dan melihat daftar harga pengiriman paket ke berbagai kota di Indonesia, lalu melanjutkan perbincangannya dengan Rahman.

“Mau yang kilat atau yang biasa? Kalau kilat Rp. 24.400, tapi kalau biasa Rp. 9.000.” tanya gadis tersebut kepada Rahman.

“Kalau yang kilat sampainya berapa lama ya, mbak?”

“3 hari. Tapi kalau yang biasa sampai seminggu dua hari.”

“Kalau begitu yang kilat saja, karena ini sangat penting.”

Rahman akhirnya mengeluarkan uang dari dompetnya yang menandakan akhir dari percakapan ini.

Mendengar ini aku teriak kegirangan. Titik terang sudah kudapatkan. Aku langsung menarik nafas sedalam-dalamnya untuk menikmati udara di bumi ini yang menandakan bahwa umurku masih panjang. Aku masih dapat menghirup udara di bumi ini, walaupun cuma tiga hari lamanya. Aku sudah tahu bahwa aku sekarang berada di kantor pos. Tersentak aku langsung melihat Rahman, karena dia kembali mengangkatku dan menciumku dengan berkata sambil terharu: “…aku mengharapkanmu...” Dua kali aku dilakukan seperti ini oleh Rahman dan kali ini aku terharu melihatnya. Aku pun langsung mengucapkan selamat tinggal padanya. Sedih rasanya ditinggal olehnya, walaupun pengalaman kami hanya satu setengah jam lamanya.

“To, tolong bawa ini ke gudang,..” kata gadis cantik itu kepada rekan kerjanya dengan nada setengah teriak. Mendengar ini aku tersentak terkejut sambil menatap wajah gadis tersebut dengan penuh kekesalan, dan pria yang di sapa ‘to’ oleh gadis tersebut mengangkatku menjauhi gadis tersebut. Aku masih tetap menatap gadis itu, walaupun gadis tersebut semakin mengecil dari pandanganku, sampai akhirnya gadis itu tidak terlihat lagi olehku. Pria yang disapa oleh gadis cantik dengan panggilan ‘to’ ini mempunyai nama Anto sesuai dengan yang tertulis di ‘name tag’nya. Ia membawaku ke tempat penyimpanan barang. Aku tidak tahu untuk apa aku dibawa ketempat ini. Mungkin aku dikumpulkan dengan barang-barang kiriman lain sebelum akhirnya di saring ketempat-tempat yang mempunyai arah yang sama. Tapi itu masih anggapanku saja. Aku belum tahu kepastiannya, namun berharap aku akan tahu nantinya.

Setelah sampai di ruang penyimpanan barang, aku diletakkan di atas meja yang besar. Aku bingung melihat tempat ini, karena begitu banyak barang-barang berupa paket yang menyerupai diriku, dan juga surat-surat yang bertumpukan. Melihat hal ini aku sedikit merenung, “apakah takdir mereka sama denganku? Apakah tujuan mereka juga sama denganku? Mungkin sangat berbeda sekali. Tapi. sudahlah itu bukan urusanku.”

“Hei..Jember, isi kamu bom ya?” tanya paket yang berada di sebelahku kepadaku. Dia memanggilku Jember karena aku akan ditujukan ke kota Jember. Mendengar ini aku pun terkejut.

“Maksud kamu apa, Yogya?” tanyaku kembali sambil memasang nada marah. Aku juga memanggilnya Yogya karena aku melihat di sampulnya dia akan ditujukan ke kota Yogyakarta.

Pertanyaanku langsung dijawab olehnya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak jelas dasarnya.

“Ya, kamu pasti berisi bom. Dari bungkusnya saja sudah terlihat bahwa kamu sangat mencurigakan, dan juga tadi aku lihat orang yang mengantar kamu ke tempat ini. Ia memakai surban putih dikepalanya. Kurang bukti apalagi saya. Kalau kamu bukan berisi bom kenapa kamu tidak di bungkus dengan sampul berwarna seperti saya ini…“

Aku bingung menghadapinya. Namun tuduhan Yogya terhadapku langsung dibantah oleh Berlin, yang kupanggil karena ia ditujukan ke luar Indonesia, tepatnya di kota Berlin, ibukota Jerman.

“Kamu tidak dapat segampang itu menuduhnya hanya dengan anggapan,” itulah perkataan Berlin untuk membelaku.

Mendengar ini Yogya pun terdiam, karena tidak ada yang membelanya. Kemudian ia mengalah dan langsung meminta maaf kepadaku, walaupun aku belum memberitahu mengenai isi di dalam diriku. Semua permasalahan akhirnya selesai begitu saja, tetapi Berlin sendiri masih menyimpan rasa penasaran kepada Yogya yang terlihat sangat ketakutan.

“Yogya, kenapa kamu menaruh curiga terhadap Jember?” tanya Berlin kepada Yogya.

“Maaf, soalnya isi di dalam diriku sangat penting bagi orang-orang di daerahku. Mungkin karena inilah aku menjadi paranoid,” jawabnya dengan nada bersalah.

“Memang isi kamu apa?”

“Isiku…, surat suara untuk pilkada di Sleman. Jadi sekarang kalian sudah tahu bukan, bagaimana bebanku saat ini.”

“Ya… saya bisa mengerti itu. Kamu adalah tulang punggung demokrasi.”

“Itu memang benar. Tapi apakah mereka semua nantinya dapat memanfaatkanku dengan baik.”

“kita hanya tinggal berharap bukan?!” jawabku sambil berusaha untuk masuk di dalam perbincangan mereka.

“Memang. Tapi patut disayangkan jika di daerah pun terjadi penyimpangan demokrasi. Daerah atau desa adalah tempat yang tepat untuk melatih sikap di dalam berdemokrasi.”

“Maksud kamu, Berlin?” tanyaku.

“Inti dari demokrasi adalah aspirasi. Sedangkan kehidupan berdemokrasi adalah sikap atau mental kita dalam menghargai setiap aspirasi itu. Daerah atau desa adalah tempat yang tepat untuk membentuk dan melatih sikap tersebut.” jawab Berlin dengan penuh keyakinan.

Mendengar ucapan Berlin membuatku teringat dengan perkataan Bung Hatta. “Itu seperti yang dikatakan Hatta kan?!”

“Ya…kamu benar Jember,” jawab Yogya dengan mengesahkan ucapanku.

“ Setiap pribadi adalah interpretasi dari keunikannya, dan kita harus menghargai keunikan tersebut. Di mana lagi bila bukan di desa atau daerah yang menjadi wadah terkecil di dalam mengumpulkan setiap aspirasinya hingga menuju kepada Negara,” lanjutnya.

Aku langsung berusaha merefleksikan perkataan Yogya, “Mungkin bisa dikatakan desa atau daerah itu adalah kumpulan dari pikiran-pikiran manusia.”

“Seperti kantor pos ini. Banyak sekali pikiran-pikiran manusia, termasuk aku, kamu, kamu, dan semuanya yang ada disini adalah gambaran dari pikiran manusia yang membuat kita. Kita adalah ide. Seperti aku misalnya. Aku adalah pikiran Scheumann yang sedang meminta beasiswa ke lembaga di Berlin di dalam menyelesaikan sekolahnya di Jakarta,” ucap Berlin.

“Kantor pos adalah pos pikiran dan desa atau daerah adalah juga pos pikiran,” kata Yogya untuk menyimpulkan perkataan Berlin. “Lalu bagaimana dengan di daerahmu, Berlin?” lanjutnya.

“Setelah perang dingin, kami terus belajar untuk berdemokrasi; berusaha untuk mengikis pembedaan antara barat dan timur.”

“Masalah Jerman adalah masalah Berlin. Semuanya harus dimulai dari Berlin. Itu seperti yang dikatakan oleh Lenin. Dan lebih luas lagi, masalah Eropa adalah masalah Jerman. Tapi apakah pos pikiran Eropa ada di Jerman dan pos pikiran Jerman ada di Berlin?” tanya Yogya sambil mengajak untuk merefleksikan bersama.

Perkataannya langsung ku jawab, “Kita tidak dapat mengatakannya. Itu hanyalah keyakinan, dan sejarah mengatakan seolah-olah demikian. Eropa bersatu seturut dengan bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur.”

Perbincangan kami pun tiba-tiba terhenti, karena kami dipisahkan sesuai dengan tujuan kita masing-masing. Aku dipisahkan kebagian Jawa Timur, Yogya ke bagian Jawa Tengah, dan Berlin ke bagian luar negeri. Melihat ini aku menjadi sedih, karena pertemanan kami hanya sebentar saja ditambah lagi aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan kepada mereka. Tetapi aku memakluminya, karena semuanya sudah ada yang menentukan. Akhirnya, aku hanya berharap pada kekuatan doa saja; semoga mereka sangat bermanfaat bagi orang yang menerimanya.

Setelah dipisahkan, aku langsung dibawa ke bagian kargo barang untuk selanjutnya di kirim ke Jember dengan pesawat. Di bagian kargo barang ini aku merasa sangat kesepian. Sangat sedikit sekali paket-paket atau pun surat-surat yang akan ditujukan ke daerah Jawa Timur. Mungkin mereka sudah tidak tertarik lagi untuk menggunakan jasa pos. Akhirnya waktu selama satu hari hanya kupakai untuk memikirkan mengenai diriku; apakah aku akan bermanfaat nantinya bagi orang yang menerimaku atau tidak. Sesekali aku sering memikirkan kawan-kawanku, Berlin dan Yogya. Terlebih bagi Yogya yang membuatku menjadi iri padanya, karena ia sangat penting bagi masyarakat Sleman.

“Jika dia bisa menjadi penting bagi masyarakat Sleman, kenapa aku tidak?”

Berkali-kali merenung membuatku akhirnya tertidur pulas. Mendadak aku kaget mendengar suara mesin pesawat. Aku langsung terbangun dan berusaha menyadarkan diri dengan melihat kanan-kiri. Sedikit aku sudah mulai sadar, dan aku mulai tahu bahwa sekarang aku berada di bagasi pesawat, bahkan tak berapa lama kemudian aku tahu bahwa pesawat di mana aku berada sudah mendarat di bandara. Aku langsung berpikir sejenak: sudah berapa lama aku tertidur. Tetapi denyut nadiku justru semakin cepat dan perasaanku menjadi deg-degan, karena penasaran dengan takdirku.

Dari pesawat aku dipindahkan ke bagian kargo barang dan kemudian langsung dibawa ke kantor pos pusat di Jember untuk natinya diantar oleh pak pos ke tujuannya masing-masing. Selama di perjalanan aku terus memikirkan mengenai diriku dan juga orang yang menerimaku dengan harapan semoga aku dapat membahagiakan orang yang menerimaku nantinya. Aku sudah tidak memikirkan lagi mengenai usia hidupku lagi, karena memang inilah takdirku. Tapi paling tidak takdirku ini adalah kebahagiaan bagi orang yang menerimaku. Kematianku membawa kebahagiaan. Itulah harapanku.

Tak terasa, akhirnya pak pos pun membawaku meninggalkan gudang penyimpanan barang untuk diantar ke si penerima. Dengan memakai motor berwarna oranye, pak pos membawaku ke jalan gelatik No. 2A, sesuai dengan yang tertera di sampulku.

“Ibu Rahman?” tanya pak pos itu sambil menunjuk kepada seorang ibu yang sedang mangandung.

“Ya benar, saya sendiri.”

“Ini ada paket dari Jakarta. Tolong ditandatangani, bu?”

Setelah mengetahui bahwa paket itu dari suaminya, akhirnya dia meneteskan air mata.

“Terima kasih, pak. Ini dari suami saya.”

Ibu itu kemudian membukaku dan di dalamnya berisi surat dari Rahman dan juga peralatan-peralatan bayi. Aku menjadi terharu, dan nafas terakhirku hanya ku ucapkan, “akhirnya aku menjadi penyalur berkat.”

Srengseng Sawah, Februari 2006

Tidak ada komentar: